Hari ini bocil kembali punya agenda sekolah yang cukup seru. Kali ini bukan belajar di kelas, bukan upacara, dan bukan pula sekadar olahraga pagi. Bocil ikut karnaval tingkat SD yang digelar di sekitar Alun-Alun Kutoarjo.
Acara seperti ini memang selalu punya daya tarik sendiri. Bukan cuma anak-anak yang antusias, orang tua dan warga sekitar pun ikut tumplek blek menikmati berbagai penampilan. Pesertanya juga beragam. Ada yang memakai pakaian adat, ndolalak, drum band, berbagai macam profesi, dan tentu saja masih banyak tema lainnya.
Sementara bocil sendiri mendapat jatah memakai pakaian adat dari salah satu daerah di Kalimantan. Pakaian tersebut sudah dipinjamkan oleh sekolah beberapa hari sebelumnya, jadi tinggal menunggu hari pelaksanaan.
Sekitar pukul 12.00, para siswa mulai berkumpul di sekolah. Setelah semua peserta siap dengan kostum masing-masing, rombongan kemudian berangkat menuju titik kumpul di Alun-Alun Kutoarjo.
Untuk keberangkatan, bocil dikawal emak naik sepeda motor. Saya sendiri menyusul belakangan. Namanya juga bapak-bapak, bagian paling strategis kadang memang datang belakangan. 😁
Sekitar pukul 13.00, karnaval mulai berjalan. Saya menyusul ke Alun-Alun Kutoarjo menggunakan sepeda motor. Sesampainya di sana, motor diparkir di sebelah selatan alun-alun. Setelah itu tinggal mencari spot yang enak untuk menonton.
Setelah melihat-lihat situasi, akhirnya saya memilih posisi di sebelah timur alun-alun. Menurut saya, lokasi tersebut lumayan nyaman. Tidak terlalu mepet dengan kerumunan, tetapi masih cukup jelas untuk melihat rombongan yang lewat meskipun lumayan panas. Dan yang paling penting, saya bisa memantau kapan rombongan bocil mulai jalan.
Begitu rombongan bocil mulai berjalan mengikuti rute karnaval, emak bocil kemudian meninggalkan titik kumpul. Tugas pun berganti. 😂
Saya tetap berada di lokasi untuk menunggu sampai rombongan bocil menyelesaikan rute dan finish. Sambil menunggu, ya daripada berdiri terus, akhirnya duduk-duduk menikmati suasana.
Karnaval memang paling enak dinikmati santai. Di satu sisi melihat anak-anak berbaris, di sisi lain orang tua sibuk mencari posisi terbaik untuk mengabadikan momen. Karena lumayan lama menunggu rombongan sampai finish, akhirnya saya beli kopi Rp 4.000. Tidak perlu kopi kekinian dengan topping macam-macam. Kopi hitam sederhana sudah cukup untuk menemani nonton karnaval. Sambil menyeruput kopi, tinggal menikmati suasana Alun-Alun Kutoarjo yang semakin ramai.
Kadang kebahagiaan memang sederhana. Anak ikut acara, bapaknya dapat tempat duduk, lalu ada kopi dan udud. 😄
Setelah rombongan bocil menyelesaikan rute karnaval dan sampai di titik akhir, anak-anak kemudian makan. Di lokasi juga terlihat beberapa fotografer yang sudah mengabadikan berbagai momen selama acara berlangsung. Menariknya, foto-foto tersebut ternyata sudah dicetak. Ukurannya kurang lebih sebesar buku tulis, sehingga cukup enak kalau mau disimpan sebagai dokumentasi.
Bagi yang berminat, foto tersebut bisa diambil dengan membayar Rp15.000. Jadi selain foto dari HP orang tua, ada juga opsi mendapatkan foto cetakan yang langsung bisa dibawa pulang.
Setelah acara selesai, ternyata bocil ingin pulang bersama teman-temannya. Rombongan memang pulang menggunakan minibus. Karena begitu, saya akhirnya memilih pulang dulu dan menunggu di sekolah. Daripada ikut menunggu di alun-alun, lebih nyaman pulang dulu.
Sekitar pukul 16.30, bus yang membawa rombongan siswa akhirnya tiba di sekolah. Satu per satu anak-anak turun dari bus. Setelah semuanya beres, bocil pun akhirnya pulang. Selesai sudah agenda karnaval hari itu.
Dari siang mulai bersiap, memakai pakaian adat Kalimantan, berkumpul di alun-alun, melihat berbagai macam penampilan peserta, sampai menikmati kopi hitam Rp4.000 sambil menunggu rombongan finish. Tidak ada kejadian spektakuler. Tidak ada perjalanan jauh. Tapi justru cerita sederhana seperti ini yang menarik untuk disimpan.
Karena suatu saat nanti, ketika bocil sudah besar, mungkin cerita tentang karnaval SD tanggal 26 Agustus 2026 ini bakal terasa jauh lebih berharga daripada sekadar foto di galeri HP.
Bocil mungkin lupa detail acaranya. Tapi semoga cerita kecilnya tetap ada. ❤️
















