Cari

03 Mei 2026

Minggu Pram

Minggu, 3 Mei 2026 menjadi salah satu perjalanan sederhana yang melelahkan, tapi tetap menyimpan cerita menarik untuk dikenang. Pagi masih gelap ketika saya, istri, dan anak berangkat dari rumah menuju Stasiun Kutoarjo menggunakan sepeda motor. Motor kami titipkan di penitipan sebelah utara stasiun sebelum akhirnya bersiap naik KA Prameks pukul 05.10 WIB.
Sejak awal perjalanan suasana sudah ramai. Kereta penuh penumpang dan kami pun tidak kebagian tempat duduk. Berdiri sepanjang perjalanan pagi sambil menjaga anak ternyata cukup menguras tenaga. Meski begitu, suasana perjalanan tetap terasa menyenangkan karena anak terlihat antusias melihat kereta dan suasana stasiun sejak subuh.
Sekitar pukul 06.10 WIB kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta lalu melanjutkan perjalanan menggunakan KRL pukul 07.10 WIB menuju Stasiun Brambanan. Perjalanan singkat itu membawa kami tiba sekitar pukul 07.30 WIB. Dari stasiun, kami berjalan kaki menuju kawasan Candi Prambanan.
Harga tiket akhir pekan saat itu cukup lumayan, Rp65 ribu untuk dewasa dan Rp35 ribu untuk anak-anak. Kawasan candi sudah ramai wisatawan sejak pagi. Seperti biasa, istri sangat menikmati sesi foto di hampir setiap sudut candi. Mulai dari gerbang, taman, relief, sampai latar candi utama tidak luput dari kamera. Sementara saya mulai merasa bosan karena sesi foto terasa tidak ada habisnya. Tapi memang begitulah kalau liburan keluarga, ada yang sibuk menikmati pemandangan, ada yang sibuk menunggu sambil menjaga barang.
Menjelang siang kami kembali ke stasiun menggunakan becak motor dengan tarif Rp25 ribu. Sambil menunggu jadwal KRL pukul 11.30 WIB, kami makan dan minum terlebih dahulu di warung depan stasiun. Momen sederhana seperti makan setelah lelah berjalan justru terasa paling nikmat dalam perjalanan seperti ini.
Sesampainya lagi di Stasiun Tugu Yogyakarta sekitar pukul 12 siang, suasana semakin padat. Lagi-lagi kami tidak mendapat tempat duduk. Karena anak masih semangat melihat kereta, kami menemaninya ke perlintasan geser di sebelah timur stasiun. Cukup lama kami berada di sana hanya untuk melihat lalu lalang kereta yang tidak pernah membuat anak bosan.
Setelah sempat berjalan ke kawasan Malioboro, ternyata rasa capek mulai terasa. Anak justru ingin kembali lagi ke perlintasan kereta yang tadi. Akhirnya kami menurut saja, kembali menikmati suara klakson lokomotif, palang pintu geser, dan kereta yang silih berganti lewat.
Menjelang sore, tenaga benar-benar mulai habis. Kami pun memutuskan pulang menggunakan Prameks pukul 15.15 WIB. Dan seperti perjalanan sebelumnya, kereta kembali penuh sehingga kami harus berdiri lagi sampai tiba di Kutoarjo pukul 16.15 WIB.
Sesampainya di stasiun, sepeda motor diambil dengan biaya penitipan Rp4 ribu, lalu kami pulang ke rumah dengan badan lelah namun hati cukup puas. Perjalanan ini mungkin bukan liburan mewah, bukan juga perjalanan yang serba nyaman. Tapi justru dari perjalanan sederhana seperti inilah muncul cerita keluarga yang akan selalu diingat: berdiri di kereta penuh penumpang, menunggu istri foto tanpa henti, menemani anak melihat kereta berjam-jam, dan menikmati lelah bersama.

1 komentar: